Banner Header Komunitas SOP

Kesehatan Mental Terhubung Dengan Fisik?

Browse By

Tetap sehat adalah tujuan utama dalam kehidupan banyak orang, dan orang tua ingin mempromosikan kesehatan yang baik untuk anak-anak mereka dengan cara apa pun yang mereka bisa.

Nasihat kesehatan ada di mana-mana, tetapi kebanyakan hanya berfokus pada tubuh. Padahal menurut peneliti, kesehatan fisik sangat berkaitan dengan kesehatan mental. Peneliti bahkan menyebutkan bahwa, jika kesehatan mental atau fisik tidak seimbang, seseorang akan mudah sakit.

Apa itu Kesehatan Mental?

Secara umum, kesehatan mental mengacu pada kesejahteraan seseorang pada tingkat emosional, sosial dan psikologis. Kondisi kesehatan mental seseorang sangat mempengaruhi cara mereka bertindak, memproses emosi dan membuat keputusan. Seseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik dapat menjaga hubungan yang sehat, mengekspresikan berbagai emosi dan mengelola permasalahan.

Sebagian besar dari kita tidak menyadari bahwa kesehatan mental kita mungkin saja sedang terganggu. Pasalnya, seseorang yang memiliki ketahanan mental yang baik maupun kurang baik keduanya bisa saja akan terlihat “baik-naik saja”. 

Nah, berikut ini bisa menjadi tanda seseorang sedang mengalami kesehatan mental yang terganggu.

  • Perubahan pola tidur dan makan
  • Menarik diri dari teman, keluarga dan kegiatan
  • Kehilangan energi
  • Mudah terganggu dan perubahan suasana hati
  • Kehilangan kinerja di sekolah atau di tempat kerja

Perbedaan antara kesehatan fisik dan mental memang tak bisa digambarkan dengan jelas. Selama bertahun-tahun, para peneliti telah mengajukan pertanyaan yang rumit – “Bagaimana kesehatan mental dan fisik berinteraksi?” Jawabannya bisa sangat rumit. Tetapi kita tahu pasti, bahwa penyakit mental berdampak pada kesehatan fisik secara langsung dan tidak langsung. Berikut ini beberapa cara konkrit tubuh dan pikiran kita saling mempengaruhi.

  1. Depresi dan Sistem Kekebalan Tubuh

Depresi, gangguan mental paling umum, tidak hanya mempengaruhi suasana hati dan motivasi. Secara langsung dapat mempengaruhi sistem kekebalan dengan menekan respons sel tubuh terhadap virus dan bakteri, tubuh lebih mudah sakit dan sakit lebih lama.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mungkin yang terjadi sebaliknya, dan sistem kekebalan tubuh sebenarnya dapat menyebabkan depresi. Stres – terutama tipe kronis – memicu respons kekebalan di dalam otak itu sendiri. Respon inflamasi itu mungkin menjadi penyebab depresi.

Sebuah studi terbaru tentang peradangan dan depresi kekebalan tubuh melibatkan manipulasi reseptor imun pada tikus. Para peneliti mengekspos tikus pada stres berulang dan mengamati bahwa stres menyebabkan otak tikus melepaskan sitokin. Sitokin adalah sejenis protein yang berhubungan dengan peradangan, dan pelepasannya menyebabkan kerusakan pada korteks prefrontal medial, bagian dari otak yang memainkan peran penting dalam depresi. Dengan kata lain, para peneliti dapat memicu gejala depresi sebagai akibat dari respon sistem kekebalan tubuh terhadap stres.

Sistem kekebalan yang kuat adalah ciri khas kesehatan fisik, tetapi penambahan stres meningkatkan kemungkinan depresi. Pada gilirannya, depresi lebih lanjut dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, ini menjadi siklus.

Kasus ini menggambarkan fakta bahwa banyak masalah kesehatan memiliki unsur fisik dan mental.

hubungan kesehatan mental dan fisik

  1. Penyakit Mental dan Kelelahan

Depresi, kegelisahan, dan gangguan suasana hati lainnya sering kali mengakibatkan perasaan lelah dan kelelahan yang persisten. Sebuah penelitian dari Universitas Bangor di Wales, Inggris, meminta peserta mengendarai sepeda statis sampai mereka mencapai titik kelelahan. Mereka mendefinisikan kelelahan sebagai ketidakmampuan untuk mengimbangi kecepatan 60 putaran per menit selama lima detik atau lebih.

Peserta melakukan tes dalam dua situasi yang berbeda. Dalam satu situasi, mereka mengendarai sepeda seperti biasa. Pada pengaturan kedua, peserta pertama-tama terlibat dalam tugas 90 menit dengan elemen menggambar di memori, reaksi cepat dan menghambat respons impulsif terhadap rangsangan.

Setelah peserta terlibat dalam tantangan mental, mereka melaporkan merasa lelah dan sedikit lesu. Yang paling penting, para peserta mencapai titik kelelahan 15 persen lebih awal.

Penyakit mental berhubungan erat dengan kelelahan, dan kelelahan yang terus menerus dapat dengan mudah menyebabkan penurunan kesehatan fisik. Ketika seseorang secara kronis tertekan atau cemas, mereka cenderung tidak olahraga dan berhenti lebih awal ketika mereka melakukannya. Kelelahan karena penyakit mental juga dapat mengganggu kebiasaan bersih,yang berimbas meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

  1. Kemarahan, Kecemasan dan Kesehatan Jantung

Ledakan kemarahan dan stres serta kecemasan berlebih , buruk bagi jantung. Sebuah penelitian di Australia bertujuan untuk melihat apakah emosi akut dapat menyebabkan serangan jantung seperti yang Anda lihat di film-film?  Dan sayangnya, hasilnya benar.

Thomas Buckley, penulis utama studi ini, mengatakan, “Temuan kami mengkonfirmasi apa yang telah diungkap dalam penelitian sebelumnya … bahwa kemarahan yang intens dapat bertindak sebagai pemicu serangan jantung.”

Dalam kasus kecemasan, risiko serangan jantung meningkat 9,5 kali lipat dalam dua jam berikutnya. Para remaja umumnya tidak perlu terlalu khawatir tentang serangan jantung,namun kemarahan dan kecemasan yang terlibat dalam gangguan kontrol impuls dapat secara negatif mempengaruhi pertumbuhan jantung mereka.

Nah, kesehatan mental dan kesehatan fisik memang sangat erat hubungannya. Maka penting bagi kita untuk terus menjaga keduanya, yaitu kesehatan mental dan kesehatan fisik setiap hari. 

Baca juga:

  1. Depresi Pada Orang Tua akan Berdampak Buruk Pada Anak
  2. Cara Terbaik Menjaga Kesehatan Mental Anak 
  3. 10 Panduan Tidak Kehilangan Akal Sehat Saat Menjadi Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *