Banner Header Komunitas SOP

Anak “Broken Home” Bermasalah?

Browse By

Perceraian tentu akan membawa dampak bagi semua orang. Mulai dari kedua pasangan yang bercerai hingga anak-anak korban perceraian, atau sering disebut dengan anak “broken home”.

Perceraian memang terasa lebih berat bagi anak-anak, terutama bila mereka tak mendapatkan penjelasan dan perhatian yang tepat.Masalah perilaku bisa dialami oleh anak-anak dari keluarga yang bercerai.

Apa saja yang mungkin dirasakan dan dialami oleh anak “broken home”?

Hal yang Dirasakan Anak “Broken Home”:

  • Kurang Kasih Sayang

Saat kondisi Ayah dan Ibu sedang tidak baik, mungkin sering bertengkar atau beradu argumen, maka anaklah yang menjadi korban. Anak menjadi kurang mendapat kasih sayang.

Terlebih bila setelah perceraian kedua orangtua sering lebih fokus pada masalah pribadi mereka sendiri-sendiri, sehingga Anak menjadi sedikit terlupakan dan kurang diperhatikan.

  • Cukup Rentan Mengalami Masalah Emosi

Perceraian orangtua tentu akan memberikan luka bagi anak-anak. Apalagi jika anak sudah memasuki usia sekolah. Anak-anak usia sekolah biasanya lebih bisa mengungkapkan dan menunjukkan perasaannya pada orang lain. Misalnya saja saat di sekolah, saat bermain dengan teman atau di tempat lainnya.

Anak-anak yang sebelumnya berperilaku baik, bisa saja melakukan hal-hal agresif seperti berbuat kasar, berteriak-teriak, atau bertengkar dengan teman sebaya. Tak hanya itu, anak “broken home” juga bisa mengalami depresi dan stres. Kondisi seperti ini pun ternyata bisa bertahan cukup lama. Hal ini disampaikan oleh psikolog asal Amerika, Lori Rappaport yang dilansir dari hello sehat.

  • Bermasalah dengan Pendidikan

Adanya permasalahan keluarga, seperti perceraian tentu akan berdampak pada kehidupan anak, khususnya di bidang pendidikan. Anak “broken home” sering mengalami penurunan prestasi di sekolah.

Perubahan suasana keluarga yang awalnya harmonis menjadi penuh dengan pertengkaran dan perpisahan tentu akan merubah suasana hati anak. Sehingga Anak menjadi tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar. Anak juga akan memikirkan situasi kedua orangtuanya. Hal inilah yang seringkali menghambat kegiatan belajar anak, sehingga pada akhirnya prestasi anak menurun drastis.

  • Bermasalah dalam Pergaulan Sosial

Anak “broken home” bisa saja mengalami permasalahan dalam pergaulan sosial. Misalnya, karena anak terlalu sering mendengar kedua orangtua bertengkar, berteriak, maka anak cenderung meniru perilaku tersebut pada teman-temannya. Jika hal ini terus terjadi, maka kemungkinan besar anak mulai dijauhi oleh teman-temannya.

Tak hanya itu, menurut psikolog Carl Pickhardt, yang dimuat dalam Psychology Today, saat dewasa kelak, anak cenderung tidak percaya pada suatu hubungan, misalnya hubungan yang terjalin dengan calon pasangan mereka. Hal ini kemungkinan dialami karena pengalaman perceraian orangtua yang dulu banyak mempengaruhi kehidupan anak.

  • Mudah Dipengaruhi

Salah satu hiburan anak saat suasana keluarga sedang tidak kondusif adalah bergaul dengan teman-teman di lingkungan sekitar. Pasalnya, anak mungkin bisa mencurahkan isi hati pada teman-teman atau hanya sekedar bermain menghilangkan kesedihan hatinya.

Nah, jika lingkungan teman-teman anak kurang baik, maka bisa saja anak terpengaruh perilaku negatif yang juga dilakukan oleh teman sepermainannya. Bahaya narkoba hingga kriminalitas menjadi kasus yang jamak ditemukan.

  • Membenci Orangtua

Anak “broken home” memiliki kemungkinan untuk membenci kedua orangtua mereka. Hal ini terjadi karena anak belum bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara kedua orangtua mereka. Anak bahkan belum bisa menerima kondisi yang terjadi pada dirinya.

Misalnya, jika dulu bisa tinggal bersama kedua orangtua, sekarang setelah orangtua bercerai anak harus memilih tinggal bersama salah satu orangtua. Apalagi jika pilihannya tersebut justru membuat anak harus pindah sekolah karena sekolah terdahulu jauh dari tempat tinggal yang sekarang. Anak tentu merasa kehilangan teman-temannya. Hal inilah yang sering membuat anak membenci kedua orangtua.

Banyak dampak negatif yang bisa saja dialami anak “broken home”. Mulai dari masalah emosi, pergaulan sosial, hingga masalah di bidang pendidikan.

Semua dampak buruk ini memang cenderung lebih banyak dialami oleh anak usia sekolah. Hal ini karena anak usia sekolah sudah mulai menyadari perubahan dalam lingkungan sekitarnya.

Untuk itu, penting bagi orangtua untuk menjelaskan dengan tepat dan hati-hati tentang perceraian dan lebih memperhatikan anak pasca perceraian, khususnya dalam hal pola asuh co-parenting.

Baca juga:

  1. Bercerai Saat Anak Usia Balita, Benarkah Lebih Mudah?
  2. Mengenal Pola Asuh Co-Parenting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *