Banner Header Komunitas SOP

“Anak Bukan Kertas Kosong” Buku Wajib Orangtua

Browse By

Menjadi orangtua berarti terus rela belajar setiap hari. Belajar memahami anak, belajar memahami perkembangan sosial, dan juga belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Di waktu lengang, seperti akhir pekan, tak ada salahnya jika kita menyempatkan diri untuk membaca. Setidaknya, ada banyak ilmu parenting baru yang bisa kita serap dari bacaan, baik dari artikel di internet maupun daru buku parenting.

Sudahkah Anda membaca buku Anak Bukan Kertas Kosong dari Bukik Setiawan? Jika sudah, Anda pasti punya pendapat yang kurang lebih sama dengan apa yang saya pahami. Dengan membaca buku ini, ada banyak sudut pandang baru yang memperluas cara pandang kita terhadap pendidikan anak. Kita semua hampir selalu lupa bahwa setiap anak itu unik. Sebagai orangtua, kita seringkali membanding-bandingkan anak kita dengan anak lain, menuntut mereka atas sesuatu yang berlawanan dengan mereka, dan banyak kesalahan lain yang tanpa kita sadari justru bisa menjerumuskan si kecil. Melalui buku ini, saya seperti disadarkan kembali atas kodrat anak yang seringkali saya abaikan.

Kita semua tentu sepakat bahwa pendidikan adalah hal yang penting bagi anak-anak kita. Akan tetapi, yang sering kita jumpai di lapangan adalah pendidikan yang tidak mendukung konsep bahwa setiap anak itu unik. Sering kali mereka dipaksa untuk memiliki keahlian yang sama dengan cara belajar yang sama pula. Prestasi mereka hanya dinilai dari nilai ujian akhir. Anak dengan keahlian musik yang jenius tetap dianggap bodoh jika nilainya jelek. Ini tentu membuat kita miris.

Melalui buku Anak Bukan Kertas Kosong, Bukik Setiawan mengajak kita untuk kembali meneladani prinsip-prinsip pendidikan yang dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Dalam buku ini, dituliskan tiga wejangan dari Ki Hajar Dewantara yang menginspirasi si penulis, yaitu:

  1. Anak mempunyai kodratnya sendiri yang tidak bisa diubah oleh pendidik. Pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembang anak berdasarkan kodrat tersebut.
  2. Pendidikan bukan menanamkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan potensi anak. Pendidikan bukanlah mengubah beragam keistimewaan anak menjadi seragam melainkan menstimulasi anak untuk menjadi dirinya sendiri.
  3. Keluarga adalah pusat pendidikan. Pendidikan orangtua tetap tidak tergantikan oleh sekolah atau lembaga pendidikan.

Bukik Setiawan juga menjelaskan secara detail tentang zaman kreatif, tantangannya, dan cara mendidik anak agar mampu bersaing di era modern ini. Orangtua bisa menggunakan cara-cara lama seperti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara untuk mendidik anak. Meski begitu, tetap ada penyesuaian-penyesuaian harus dilakukan agar pendidikan anak maksimal sesuai dengan potensinya masing-masing.

Buku Anak Bukan Kertas Kosong ini telah meluaskan cara pandang saya tentang pendidikan anak. Buku ini sangat padat dan begitu jelas. Pembaca bisa memahami buku ini berdasarkan sub bagian dengan tema-tema tertentu.

Pada bagian pertama, penulis mengajak Anda untuk memahami tentang zaman kreatif lengkap dengan sisi positif dan negatifnya hingga tantangan-tantangannya. Lalu, bagian kedua menjelaskan konsep tentang “Anak Bukan Kertas Kosong”. Di sini, Bukik menjelaskan ada 8 kecerdasan majemuk yang mungkin dimiliki anak. Dari delapan kecerdasan tersebut, hanya ada beberapa yang menojol. Itulah nanti yang akan dikembangkan oleh orang tua. Pada bagian selanjut (sekaligus yang paling ditunggu-tunggu) adalah action plan. Melalui buku ini, setiap orangtua bisa praktik langsung bagaimana cara mengembangkan bakat anak-anak sesuai dengan kecerdasannya. Bukik Setiawan Menjelaskan secara rinci tentang panduan mengembangkan potensi anak.

Sebagai sama-sama orangtua, buku ini memang sangat penting untuk dibaca. Saya bukan promosi, toh School of Parenting tidak berhubungan langsung dengan penulis atau penerbit. Ini adalah buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh setiap orang tua. Bagaimanapun, kita harus tahu bagaimana cara terbaik mendidik anak. Jika kita hanya percaya pada sekolah, bisa jadi potensi anak-anak justru terkubur karena setiap anak dituntut untuk seragam seperti yang lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *