Banner Header Komunitas SOP

Apakah Perilaku Anak Saya Normal?

Browse By

Ketika usia anak menginjak balita, ada perilaku-perilaku unik anak yang menjurus ke sisi seksualitas. Orangtua sering merasa was-was dan bingung ketika anak-anak mulai meraba-raba alat kelaminnya dan sesekali memainkannya. “Apakah perilaku anak saya normal?” keluh ibu-ibu yang mendapati anaknya melakukan hal-hal unik yang menjurus ke seksualitas. Dalam hal ini, Anda harus memahami bagaimana kondisi buah hati Anda supaya tahu bagaimana harus bertindak.

Anak Balita Melakukan Pengamatan dan Penemuan

Wulan (27 tahun) bercerita bahwa putrinya yang masih berusia tiga tahun mulai suka memegang alat kelaminnya. Sesekali, Wulan mendapati anaknya meletakkan tangannya di antara selangkangannya, kemudian mulai menyentuh dan menggosok alat kelamin. Apakah hal ini wajar?

Sejak bayi berusia empat bulan hingga 6 bulan, bayi mulai sering menyentuh alat kelaminnya secara tidak sengaja. Baru ketika ia berusia tiga sampai 6 tahun, anak-anak sering menyentuh alat kelaminnya dengan sengaja, ini disebut fase phallic. Bagi anak, menyentuh alat kelamin adalah sesuatu yang memberikan rasa nyaman, hampir sama seperti kebiasaan mengisap jempol,karena sebenarnya fase phallic adalah fase peralihan dari fase oral.

Jika melihat hal ini, jangan melarang berlebihan atau memarahi anak. Reaksi orangtua yang terlalu berlebihan memberikan kesan bahwa alat kelamin adalah bagian tubuh yang terlarang. Manfaatkan momen ini untuk memulai pendidikan seksual. Jelaskan pada anak bahwa alat kelamin adalah seuatu privasi. Jelaskan juga bagian-bagian tubuh mana saja yang boleh dipegang dan mana yang tidak, dan siapa yang boleh pegang atau melihat kelaminnya (contoh: pengasuh boleh, tapi hanya sebatas membantu cebok/memandikan, dokter boleh tapi bila ada mama). Bila melihat anak memegang kelaminnya, alihkan perhatiannya saat ia melakukan hal tersebut, juga jelaskan akibat dari sisi medis (kotor, bisa terluka) tapi dengan bahasa dan gestur yang tidak menakut-nakuti.

Selanjutnya, Putri (27 tahun) memiliki seorang anak laki-laki berusia hampir 4 tahun yang sering ia titipkan ke daycare. Menurut kepala pengasuh Daycare, anak tersebut sering kali pergi ke kamar mandi bersama anak lain, terutama anak perempuan. Bagaimana menyikapi hal ini? Apakah perilaku ini normal?

Saat menginjak usia balita, anak-anak memang menjadi lebih penasaran dengan tubuhnya. Bukan hanya tubuhnya sendiri, anak-anak juga penasaran dengan tubuh orang lain. Rasa ingin tahunya yang besar kadang mendorong anak-anak untuk melakukan sesuatu, termasuk mengintip. Sebagai orangtua, Anda bisa memberinya penjelasan bahwa memang ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Karena perbedaan tersebut, jelaskan juga bahwa anak laki-laki dengan anak perempuan tidak dibenarkan masuk toilet bersama. Makanya, selalu ada toilet untuk anak laki-laki dan perempuan supaya orang-orang bisa masuk ke toilet sesuai dengan jenis kelaminnya. Jelaskan pula pada anak bahwa tidak sembarang orang boleh menemani atau mengajak dia ke toilet. Ini adalah pendidikan seksual paling dasar yang harus diajarkan ke anak. Dengan begitu, Anda bisa menjauhkan mereka dari ancaman predator seksual.

Perilaku normal dari anak

Anak Balita Membuat Pertanyaan-Pertanyaan

Selain mendapati perilaku-perilaku ganjil anak-anak yang berhubungan dengan seksualitas, orangtua juga sering mendapati pertanyaan-pertanyaan mengejutkan dari si kecil. Misalnya, “Ma, kok bayi bisa ada dalam perut Mama.” atau “Pa, pedofilia itu apa sih?”. Mendengar pertanyaan ini meluncur dari mereka jelas memusingkan kita. Konsep-konsep tersebut belum bisa dipahami oleh anak-anak. Untuk itu, orangtua harus bisa menjelaskan konsep yang rumit tersebut dengan bahasa yang sederhana dan bisa dimengerti oleh si kecil.

Tips Menjawab Pertanyaan dari Anak-Anak
  1. Jawablah dengan sejelas mungkin, namun pilihlah kata-kata sederhana untuk menjelaskannya. Apabila ada kata-kata yang belum dimengerti oleh si kecil, Anda harus menjelaskan maksud dari kata tersebut.
  2. Tanyakan pada mereka alasan mengapa pertanyaan itu bisa muncul. Bisa saja anak Anda sedang khawatir tentang sesuatu atau mungkin sebetulnya dia ingin tahu hal-hal yang lain. Mendengar alasan anak bertanya bisa membuat Anda lebih mudah mencarikan jawaban yang paling sesuai.
  3. Jika Anda tidak tahu jawabannya, jangan coba-coba untuk memberikan penjelasan yang salah atau ngawur. Orangtua tidak harus tahu segalanya. Jika Anda memang kesulitan untuk menjawab pertanyaan mereka, Anda bisa memberitahunya bahwa Anda membutuhkan waktu untuk berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab. Kemudian, carilah referensi sebanyak mungkin tentang bagaimana menjawab pertanyaan dari anak.

Demikian adalah beberapa hal yang harus Anda pahami dalam menilai perilaku anak yang berhubungan dengan seksualitas.

Baca juga:

  1. Pendidikan Seks Menjelang Anak Remaja
  2. Cara Mulai Mengenalkan Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini
  3. Siap-Siap Parents! Ini Mungkin Pertanyaan Tersulit dari Anak Anda

Rekomendasi Kelas Online Bersama Ahli : Rizqina Permatasari, M.Psi., Psikolog

  1. Sex Education untuk Balita
  2. Sex Education unutuk Anak

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *