Banner Header Komunitas SOP

Biasa Memanjakan Anak? Pahami Dampak Buruknya

Browse By

“Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang membuat mereka bahagia. Mereka membutuhkan orang tua yang bisa membuat  mereka memiliki kemampuan.”

Jill Rigby penulis buku Raising Unselfish Children in a Self-Absorbed World.

Anda memang bisa memberikan kebahagian atau membuat anak-anak bahagia kapan saja, namun untuk membentuk anak-anak menjadi mampu menghadapi berbagai hal dalam hidup memang harus dilakukan sejak anak-anak berusia dini. Mengajarkan anak kemampuan tertentu tidak bisa dilakukan dalam satu malam, melainkan butuh proses panjang.

Sayangnya beberapa orang tua justru sering memanjakan anak berlebihan, sehingga melupakan tugasnya untuk membuat anak “mampu”. Misalnya, anak-anak yang sudah sekolah sering kali tidak mampu mengenakan baju sendiri atau memakai sepatu sendiri. Hal ini karena orang tua tidak pernah melatih mereka melakukan tugas-tugas tersebut sejak dini.

Tak hanya itu, orang tua kadang memanjakan anak-anak dengan cara yang berbeda, misalnya memberikan banyak hadiah saat ulang tahunnya, menuruti semua keinginan anak, sering mengajak liburan mewah dan lain sebagainya. Nah, peneliti bahkan telah mengidentifikasi beberapa jenis perilaku yang tergolong memanjakan anak.

Apa Saja Perilaku yang Tergolong Memanjakan Anak?

  • Memberi Berlebihan

Salah satu perilaku yang tergolong memanjakan anak adalah memberi sesuatu secara berlebihan. Misalnya, membelikan mainan berlebih, memberi anak aktivitas berlebih, mengizinkan anak bermain l berlebihan dan lain sebagainya. Memberi anak berlebihan akan membuat anak berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan segala sesuatu dengan porsi yang lebih banyak daripada orang lain. Pola pikir inilah yang bisa terbawa sampai dewasa nanti.

  • Pola Pengasuhan Berlebihan

Orang tua yang melakukan banyak hal untuk anak-anak bisa dikatakan menerapkan pola pengasuhan berlebih. Hal ini justru akan mencegah anak untuk mempelajari keterampilan atau kemampuan yang dibutuhkan saat dewasa kelak. Beberapa contoh pola pengasuhan berlebihan misalnya, melarang anak memakai sepatu sendiri, menyisir rambut sendiri atau mengenakan baju sendiri. Semakin bertambah usia, bahkan orang tua melarang anak melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, memasak atau menyapu.

  • Aturan Terlalu Longgar

Membuat aturan yang longgar untuk anak juga termasuk memanjakan anak berlebihan. Misalnya membebaskan anak menonton TV/ gadget hingga larut malam, atau membebaskan anak bermain hingga lupa waktu belajar.

  • Memberi Pengalaman yang Tidak Sesuai Usia

Anak-anak seharusnya belajar tata tertib dan mandiri sejak dini. Namun seringkali orangtua sendiri yang malah melanggar aturan dengan alasan “demi anak”. Misalnya membawa anak menonton bioskop dengan film yang ratingnya dewasa. Alasannya tidak bisa meninggalkan anak sendirian. Ini jelas akan berdampak negatif pada anak.

Beberapa orang tua mungkin sudah paham benar bahwa pola asuh yang diterapkan pada anak cenderung memanjakan anak. Namun, tetap saja sebagian orang tua tidak merubah pola asuh mereka. Hal ini dilakukan karena orang tua memiliki alasan tertentu.

Alasan pertama, karena orang tua merasa bersalah. Ya, rasa bersalah karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja justru membawa orang tua pada kesimpulan membelikan anak berbagai macam hadiah, bahkan menuruti setiap permintaan anak.

Alasan kedua, karena ingin membuat anak bahagia. Orang tua mana sih yang tidak ingin anaknya bahagia. Namun, beberapa orang tua membahagiakan anak dengan cara yang kurang tepat, yaitu memanjakan anak berlebihan. Orang tua mungkin berpikir, daripada anak merasa sedih maka satu-satunya hal adalah memberikan apa saja yang diinginkan anak.

Alasan ketiga, karena ada kalanya orang tua tidak siap menghadapi perilaku anak-anak. Misalnya saat anak rewel, atau tantrum. Orang tua sering mengambil jalan pintas memberikan apapun keinginan anak. Bahkan jika keinginan anak tersebut sudah melebihi aturan dalam pola asuh yang diterapkan. Akhirnya demi memudahkan hidup orang tua, anak-anak menjadi tidak disiplin.

Alasan terakhir, karena orang tua ingin menebus pengalaman buruk semasa kecil. Orang tua yang dibesarkan dalam kemiskinan mungkin tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan, sehingga mereka tidak ingin pengalaman ini terjadi pada anak-anak sekarang. Tak hanya itu, masa kecil orang tua mungkin dibesarkan dengan aturan yang sangat ketat, sehingga setelah dewasa dan memiliki anak-anak, orang tua tidak ingin membiarkan anak-anak hidup dalam aturan yang ketat.

Nah, berdasarkan penelitian pada tahun 2001, menemukan fakta bahwa, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh cenderung manja akan mempercayai berbagai hal, yaitu:
  1. Kebahagiaan sulit didapatkan kecuali seseorang terlihat baik, cerdas, kaya, dan kreatif.
  2. Kebahagiaan bergantung pada orang-orang yang saya tahu menyukai saya.
  3. Jika saya gagal di bagian tertentu, sama saja seperti saya gagal total
  4. Saya tidak bisa bahagia jika saya kehilangan banyak hal baik dalam hidup.
  5. Kesendirian akan mengarah pada ketidakbahagiaan.
  6. Jika seseorang tidak setuju dengan saya, mungkin menunjukkan bahwa orang tersebut tidak suka dengan saya.
  7. Kebahagiaan saya lebih bergantung pada orang lain daripada pada saya sendiri
  8. Jika saya gagal pada pekerjaan saya, itu berarti saya gagal sebagai manusia.

Terlalu memanjakan anak dengan memberikan sesuatu berlebihan memang memberi banyak dampak buruk pada anak. Untuk itu, sebaiknya berikan apa yang dibutuhkan oleh anak, daripada hanya memberikan apa yang diinginkan oleh anak. Dengan begitu anak akan belajar banyak hal yang berguna bagi kehidupannya kelak.

Baca Juga :

  1. Pola Asuh yang Salah Bisa Membuat Anak Menjadi Egois
  2. Tips Menghadapi Remaja yang Konsumtif
  3. Anggap Anak Jadi Teman? Pahami Dulu Sisi Negatifnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *