Bicara Sejak Dini dengan Anak Tentang Bahaya Rokok

Browse By

Parents tentunya tahu tentang bahaya rokok. Mulai dari kanker paru-paru hingga masalah jantung. Tapi apakah sudah mengenalkan kepada anak tentang bahaya rokok? Sudahkah Parents berdiskusi dengan anak tentang bahaya rokok?

Mungkin orangtua bingung bagaimana cara mengenalkan anak tentang bahaya merokok? Atau sebagian berpikir “Ah anak saya masih terlalu kecil untuk diajak bicara soal rokok”.

Tidak ada kata terlalu dini untuk berbicara tentang bahaya rokok dengan anak ya,  Parents. Terutama jika anak berada di lingkungan orang-orang perokok. Semakin dini orangtua menyampaikan tentang bahaya rokok berarti semakin dini pula menyampaikan pesan untuk tidak merokok.

Semakin muda usia anak, tingkat kepatuhan mereka pun masih tinggi. Parents bisa menggunakan kesempatan menguntungkan ini untuk membicarakan tentang bahaya merokok sejak dini. Yuk, ikuti trik bicara soal bahaya rokok pada anak berikut ini!

1. Pahami Hal yang Paling Anak Pedulikan

Bicara soal bahaya rokok, pasti membicarakan soal penyakit jantung, kanker paru-paru dan lain sebagainya. Sebenarnya anak belum begitu paham dengan efek jangka panjang tersebut. Ingatlah, pemahaman anak masih sangat sederhana.

Anak-anak biasanya peduli dengan efek yang langsung bisa dilihat dan dirasakan.

Orangtua bisa mengatakan kepada anak bahwa saat kita merokok rambut dan baju kita jadi bau asap rokok. Gigi kita jadi berwarna kuning, nafas kita pun jadi bau.

Bagi orangtua yang memiliki anak perempuan tambahkan tentang kerusakan kulit yang terjadi saat kita merokok. Katakan padanya bahwa orang yang merokok memiliki kulit kusam dan masalah kulit lainnya.

2. Ajak Anak Berhitung

Tarik perhatian anak dengan berhitung biaya yang harus dikeluarkan untuk rokok. Parents bisa mengambil kalkulator dan menunjukkannya pada anak kira-kira berapa uang yang dikeluarkan hanya untuk rokok selama 1 tahun, 2 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun dan seterusnya.

Tanyakan padanya apa yang ingin dibelinya dengan uang sebanyak itu. Hal ini mengajarkan anak untuk merasa sayang menggunakan uang hanya untuk rokok. Akhirnya anak berpikir bahwa rokok itu tidak penting.

3. Bicarakan Soal Olahraga

Saat anak gemar berolahraga bahkan bercita cita sebagai atlet. Ini kesempatan bagus untuk bicara soal bahaya rokok. Katakan padanya bahwa rokok membuat nafas menjadi pendek.

Rokok bisa mempengaruhi performanya saat berlari, dan berenang. Parents juga bisa menegaskan bahwa mungkin anak akan berhenti menjadi atlet karena masalah kesehatan seperti asma. Sisipkan juga tentang timbulnya efek jangka panjang seperti masalah jantung dan paru-paru.

4. Jadi Role Model yang Baik

Jika Parents bukan Perokok

Orangtua sedang mengirimkan pesan tentang “Tidak merokok” terbaik jika anda bukan seorang perokok. Dengan tidak merokok, Parents memberi contoh nyata pada anak. Anak akan lebih mudah memahami bahwa rokok itu bahaya.

Jika Parents Perokok

Anak biasanya berpikir bahwa merokok bukan hal yang buruk saat melihat orangtua merokok. Anak- anak memiliki kecenderungan meniru. Anak dari orang tua perokok memiliki kesempatan dua kali lipat untuk merokok. Apa yang bisa dilakukan orangtua?

Sussanne Tanski, M.D Ketua kelompok pencegahan tembakau dan dokter anak di Dartmouth-Hitchcock Medical Center menyatakan bahwa “ Jika orangtua adalah perokok, diskusikan keinginan anda untuk berhenti, dengan begitu anak akan belajar dari kesalahan yang dilakukan orangtua.

Jelaskan pada anak bahwa anda tidak terlalu peduli dengan kesehatan saat dulu mencoba merokok. Dan jika waktu bisa diputar anda tidak mau menyentuh rokok sedikitpun.”

Dr. Tanski juga mengajak para orangtua untuk melakukan langkah nyata berhenti merokok. Anak-anak perlu paham bagaimana sulitnya berhenti merokok. Ini adalah langkah yang baik bukan hanya bagi anak tapi juga bagi orangtua sendiri.

5. Ajarkan Anak Bicara “Tidak”

Hal yang bisa mempengaruhi anak merokok adalah lingkungan. Bisa anak mencoba merokok saat bersama teman-teman. Biasanya anak merasa malu dan tidak enak hati saat diajak merokok oleh teman-temannya.

Ajarkan anak untuk mengatakan “tidak” tanpa membuatnya malu. Contohnya saat anak diajak merokok, ajarkan mereka mengatakan “ Tidak, terima kasih”, “ Maaf, tapi aku tidak suka baunya”, “Maaf tapi aku mau latihan bola, rokok membuat nafasku sesak”.

6. Bebaskan Rumah Dari Asap Rokok

Orangtua bisa menyatakan soal bahaya merokok dengan langkah nyata yaitu menjaga rumah terhindar dari asap rokok. Saat keluarga atau saudara lain datang dan merokok di rumah, jelaskan pada mereka dengan sopan untuk tidak merokok di dalam rumah anda.

Saat anak melihat betapa pedulinya orangtua tentang bahaya asap rokok. Anak akan mulai mengambil contoh tersebut dan menerapkan pada dirinya.

Berdiskusi dengan anak sejak dini tentang bahaya rokok memang sangat penting. Tapi bagaimana jika anak sudah beranjak dewasa ? Mungkin Parents mulai khawatir dan berpikir bahwa anak sudah mencoba merokok.

Lalu tanda apa saja yang nampak saat anak sudah mulai merokok?

Langkah apa yang harus orangtua ambil saat mengetahui anak merokok?

Tanda Anak Merokok

Parents harus curiga saat nafas dan, baju anak bau asap rokok. Anda juga harus mulai curiga saat anak mulai sesak napas atau batuk terus menerus. Mungkin anak anda sudah mencoba untuk merokok.

Jika hal ini terjadi, orangtua bisa melakukan langkah berikut

1. Ajak anak berbicara terbuka

Tanyakan kepada nya apa dia merokok?

2. Katakan pada anak bahwa Parents sangat kecewa padanya, tapi akan membantunya.

Buatlah jadwal rencana bersama bagaimana berhenti dari merokok

1. Berikan konsekuensi pada anak saat mereka kembali merokok

2. Konsultasikan dengan dokter apabila anak mulai sering merokok dan sulit berhenti.

Merokok memang sangat berbahaya bagi kesehatan. Bicaralah tentang bahaya rokok sejak dini dengan anak. Diskusi yang orangtua lakukan sejak dini sangat berarti bagi anak untuk bekalnya di masa mendatang. Ingat, tidak ada kata “terlalu dini” untuk bicara tentang bahaya rokok dengan anak ya, Parents.

Baca Juga:
  1. Cara Bantu Suami Berhenti Merokok
  2. Indonesia Darurat Perokok Usia Dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *