Ayah Ibu School Life Tips

Menghindari Konflik Sesama Orangtua Murid

“Kata mamaku, aku gak boleh jajan sembarangan kayak kamu, soalnya mama aku selalu ngajarin harus jaga kebersihan, gak kayak mama kamu” Kata Cindy kepada temannya Sarah di Sekolah.

Sepulang sekolah, Sarah langsung bercerita kepada mama nya. Mama Sarah yang sedang emosi membuat gosip baru lagi tentang Mama Cindy ke orang tua lain. Kejadian ini berlangsung bolak-balik dan akhirnya terbentuk geng diantara para orangtua murid.

Inikah situasi yang pernah Parents alami bersama dengan orang tua lain di sekolah anak? Ya, bergosip dan memiliki geng bisa saja terjadi antar orang tua murid di sekolah. Tak diketahui alasan pastinya. Namun, bisa dipastikan hal ini akan merusak relasi dengan sesama orang tua murid.

Apa Saja Sih Yang Bisa Merusak Relasi Antar Orangtua?

  • Saling Bergosip

Beberapa orangtua murid mungkin tidak bisa menahan untuk tidak bergosip saat sedang berkumpul di anak sekolah. Awalnya mungkin bukan sesuatu yang cukup penting, Namun lama-kelamaan semua hal bisa dijadikan bahan gosip.

Misalnya, pekerjaan sesama orang tua, pakaian yang dikenakan orang tua, bahkan saling bergosip tentang tingkah laku anak lain.

Sepandai-pandainya Anda menyimpan rahasia saat saling bergosip, bisa saja seseorang yang Anda gosipkan akhirnya mengetahui. Akhirnya hubungan Anda sebagai sesama orangtua murid bisa retak.

  • Membentuk Geng Sesama Orang tua Murid

Berawal dari saling berkumpul, geng antar orangtua murid pun bisa saling terbentuk. Misalnya geng A ibu-ibu arisan, geng B ibu-ibu karir dan geng C ibu-ibu rumah tangga. Setiap geng memiliki hal-hal yang sama dan saling bergosip tentang geng lain. Hal ini juga semakin membuat retak relasi sesama orangtua murid.

  • Retak Karena Anak Saling Bertengkar

Pertengkaran sesama anak di sekolahan seharusnya sudah dianggap hal yang wajar bagi orangtua murid. Namun menjadi masalah besar apabila antar orangtua murid tidak memiliki relasi yang baik. Ketika satu anak bertengkar, sesama orangtua bisa saja bukannya mendamaikan malah ikut larut dalam pertikaian.

Akhirnya, bukan hanya relasi sesama orangtua murid yang retak. Relasi pertemanan anak di sekolah pun akan ikut retak.

Bagaimana tidak? Saat sesama orang tua murid tidak akur, orang tua tersebut bisa saja memberikan paham negatif kepada anak-anak mereka sendiri. Misalnya, “Udahlah Nak ga usah berteman sama si A, lagi mamahnya aja begitu kelakuannya”.

Hal-hal seperti ini layaknya efek domino yang selalu berputar. Dari hal kecil bisa menjadi hal besar dengan dampak yang luar biasa. Kira-kira apa dampaknya bagi anak?

  • Membuat Anak Merasa Memiliki Musuh

Anak-anak masih berada dalam fase imitasi. Sehingga anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Tak terkecuali orang tua. Saat sesama orangtua murid saling bertengkar dan menunjukkan sikap permusuhan ini di hadapan anak, maka anak cenderung ikut memusuhi anak lain. Dengan demikian, kehidupan pertemanan anak yang awalnya baik-baik saja, bisa ikut rusak karena relasi buruk antar sesama orangtua murid.

  • Anak Tidak Bisa Menyelesaikan Masalahnya Sendiri

Permasalahan antar teman yang sebenarnya bisa diselesaikan sendiri oleh anak menjadi semakin buruk karena relasi yang dibangun antar orangtua murid. Orangtua bisa saja memperburuk keadaan dengan bercerita hal-hal buruk tentang teman anak. Hal ini bukanlah sesuatu yang bijak.

Bagaimana Mengatasinya?

  • Stop Bergosip

Sebaiknya mulailah untuk berhenti bergosip. Bahkan untuk gosip-gosip ringan di antara orangtua murid. Lakukanlah hal ini dari diri sendiri. Saat Anda membatasi diri Anda untuk tidak bergosip, maka orang lain yang terlibat dalam perbincangan ringan dengan Anda pun akan ikut berhenti.

  • Hindari Terlibat Dalam Geng

Terlibat dalam geng, apalagi geng yang suka bergosip sungguh hal yang tidak bijak sebagai orangtua. Usahakan untuk membangun relasi baik dengan siapa saja. Hindari juga konfrontasi dengan orang tua lain.

  • Tanamkan Nilai-Nilai Keluarga Pada Anak dengan Cara yang Baik

Adakalanya Anda menjelek-jelekkan keluarga lain saat Anda menanamkan nilai-nilai keluarga kepada Anak. Hal ini adalah sesuatu yang tidak bijak untuk dilakukan sebagai seorang orangtua. Sebaiknya tanamkan nilai-nilai keluarga kepada anak dengan cara yang baik. Tanpa melibatkan keluarga lain.

Misalnya, katakan “Dek kalau bangun tidur tempat tidurnya harus dirapikan sendiri, kan adek udah besar. Sekarang sudah masuk kelas 2 SD lho”. Hindari mengatakan “Dek kalau ke sekolah bukunya harus dirapikan sendiri .Jangan kaya Sarah Pasti mamahnya gak ngajarin deh!

Lewat sebuah artikel di  psychedinsanfrancisco.com Psikolog, Jessica Michaelson, mengatakan bahwa setiap keluarga memiliki nilai-nilai yang berbeda. Ini berarti asumsi nilai (value) baik dan buruk dalam tiap keluarga juga berbeda. Maka jangan pernah menyamakan nilai keluarga Anda dengan orang lain.

  • Jangan Terbawa Arus

Sebaiknya hindari terbawa arus percakapan atau emosi orang lain ya Parents. Misalnya saat orangtua lain ikut bergosip, carilah cara untuk menghindarinya. Atau saat anak Anda terlibat pertengkaran bersama dengan temannya, sebaiknya biarkan anak Anda menyelesaikan sendiri. Alih-alih ikut campur dan memberi bumbu-bumbu negatif pada pertengkaran anak. Jadilah wasit sebagai penengah pertengkaran anak.

  • Usahakan Selalu Berbicara Sopan

Kesopanan adalah hal utama dalam membangun suatu relasi. Usahakan untuk selalu berkata-kata sopan sesama orangtua murid. Tidak hanya itu, usahakan untuk selalu sopan kepada teman anak Anda. Ajarkan juga anak untuk berkata-kata sopan terhadap semua orang. Walaupun terkadang Anda tidak bisa mengharapkan hal yang sama dari orangtua murid lain. Namun, mulailah segala sesuatu dari Anda sendiri.

  • Fokus Pada Diri Sendiri

Jangan pernah berpikir jika orang lain begini maka saya juga harus begini. Fokuslah pada diri Anda sendiri. Jangan fokus pada masalah orang lain apalagi nilai-nilai keluarga lain. Tanyakan pada diri Anda sendiri apakah sudah menanamkan nilai-nilai positif pada anak.

  • Minta Maaf

Tidak ada salahnya minta maaf sekalipun Anda merasa bukanlah Anda yang bersalah. Awali untuk meminta maaf dan segera akhiri konflik sesama orangtua murid. Sekalipun anak anak yang sedang bertengkar.

Tidak mudah memang membangun relasi sesama orang tua murid. Terlebih membangun kembali relasi yang sudah retak. Beberapa hal memang harus diingat dalam menjalin relasi sesama orang tua murid. Langkah di atas bisa menjadi salah satu cara agar relasi yang Anda bangun bersama dengan orangtua lain bisa tetap terjaga.

Baca juga :

  1. Berteman Dengan Sesama Orang Tua, Pentingkah? 
  2. “Damai Dengan Ibu”, Film Pendek tentang Konflik Ibu Muda dengan Orang Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *