Banner Header Tanya Ahli SOP

Mom-Shaming: Sekedar Nyinyir atau Bermaksud Baik?

Browse By

x Kok nggendongnya gitu sih?

x Anak kamu kurus ya?

x Kok nyusui anak di luar rumah sih?

x Anak kamu kan masih kecil, kok udah ditinggal kerja?

x Asi kamu dikit ya?

x Kok masih makan bubur sih, kan udah gede?

x Udah umur 4, kok anaknya masih disuapin?

Dan masih banyak lagi komentar yang sering didengar oleh Ibu-ibu di luar sana..

Pernahkan Anda mendengar komentar yang terkesan negatif terkait pola asuh anak di sekeliling Anda? Jika iya, berarti Anda sedang mengalami “Mom-Shaming”.

Apa Sih Mom-Shaming itu?

Mom-shaming adalah perlakuan mempermalukan seorang Ibu yang dilakukan oleh orang lain. Perlakuan ini bisa berupa kritikan negatif, sindiran, komentar negatif dan pertanyaan menuduh yang terkesan menyalahkan seorang Ibu.

Siapa Saja Yang Bisa Melakukan Moms-Shaming?

Menurut data dari C.S. Mott Children’s Hospital Universitas Michigan, National Poll on Children’s Health, 2017, Mom-shaming paling banyak justru dilakukan oleh keluarga seorang ibu. Misalnya, orang tua Ibu,saudara dan mertua.

Selain anggota keluarga, Mom-shaming juga bisa dilakukan oleh teman seorang ibu, ibu dari anak lain di sekolah, bahkan orang lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan khusus dengan sang ibu.

Di Mana Saja Mom-Shaming Terjadi?

Moms-shaming bisa dilakukan dimana saja. Misalnya di rumah oleh anggota keluarga, di sekolah oleh orang tua anak lain, bahkan di taman bermain dan publik area oleh orang yang tidak memiliki hubungan dengan seorang Ibu.

Belakangan ini, Mom-shaming juga marak dilakukan di sosial media. Tak jarang orang yang melakukan Mom-shaming mengkritik langsung pada seorang Ibu yang bersangkutan di sosial media.

cara mengatasi mom-shaming

Kenapa Seseorang Melakukan Mom-Shaming?

  • Merasa Diri Sendiri Yang Paling Benar

Beberapa orang yang melakukan Mom-shaming merasa dirinyalah yang paling benar dalam melakukan pola asuh terhadap anak (parenting). Merasa yang paling benar biasanya terjadi pada orang-orang yang sudah memiliki pengalaman sebelumnya. Misalnya Mom-shaming yang dilakukan mertua atau orang tua si ibu.

  • Tidak Bermaksud Melakukan Mom-Shaming

Beberapa Ibu mungkin merasa dirinya dikritik atau disalahkan karena pola asuh atau kebiasaan yang diterapkan kepada anak-anak. Namun, sebenarnya orang-orang di sekitar Ibu hanya bermaksud mengingatkan atau memberi solusi. Hanya saja dengan cara yang kurang tepat dan sedikit menyudutkan.

Misalnya, saat seseorang mengatakan “Anaknya udah gede, kok makan masih disuapin?” kemungkinan orang tersebut hanya ingin menyarankan, seharusnya anak yang sudah besar bisa belajar makan sendiri.

  • Ingin Merasa Terlibat

Sebagian orang justru melakukan Mom-shaming hanya ingin merasa nyaman dan merasa terlibat. Misalnya, Mom-shaming yang dilakukan oleh orang tua Ibu. Kemungkinan sang orangtua hanya ingin terlibat terkait kesehatan atau pendidikan cucu mereka.

Bagaimana Cara Menghadapinya?

Mom-shaming bisa menjadi sangat menyakitkan bagi seorang Ibu. Bagaimana tidak? Seorang Ibu yang sudah sangat lelah mengasuh anak, dan ingin memberikan terbaik justru dikritik dan cenderung disalahkan. Bahkan oleh keluarga terdekat.

Tapi jangan sedih dulu Bu. Yuk, simak bagaimana menghadapi Mom-shaming ini dengan cara yang lebih positif.

  • Siapkan Mental

Sebaiknya Ibu harus menyiapkan mental jauh sebelum terjadi Mom-shaming. Hal ini karena Ibu tidak bisa mengontrol apa yang ingin orang lain bicarakan terkait pola asuh yang Ibu terapkan untuk anak.

  • Rubah Pola Pikir

Sebaiknya ubah pola pikir Ibu tentang Mom-shaming. Pikirkan bahwa seseorang mungkin hanya memberikan saran atau sekadar mengingatkan Ibu dengan cara berbeda.  Kadang kritikan juga bisa bersifat membangun Ibu ke arah yang lebih positif.

  • Jangan Terlalu Dipikirkan

Saat Ibu mengalami Mom-shaming, sebaiknya jangan terlalu dipikirkan. Terkadang mengacuhkan pendapat orang bisa menjadi hal yang cukup bijak.

  • Percaya Diri

Jadilah Ibu yang percaya diri, namun jangan over confidence. Orang yang paling paham tentang anak tentu adalah Ibu sendiri. Misalnya, saat Ibu memutuskan memberi anak susu formula daripada ASI. Ibu tentu punya alasan kuat, namun jangan juga menutup diri terhadap saran dari orang lain. Misalnya, ada yang menyarankan untuk mengunjungi klinik laktasi saat tahu Ibu memberi susu formula karena produksi ASI tidak maksimal.

  • Jadi Ibu Yang Cerdas

Jadilah Ibu yang cerdas. Kritikan atau pendapat dari orang lain bisa Ibu terima atau tidak. Sebaiknya selalu bekali wawasan terhadap isu-isu tertentu yang banyak dikritik. Ibu juga bisa membaca banyak artikel, mengikuti seminar – seminar Parenting.

Sehingga Ibu bisa langsung bertanya kepada ahli terkait masalah anak yang Ibu sedang hadapi. Teruslah belajar dan jangan mudah menganggap diri Ibu melakukan hal yang buruk kepada anak.

  • Tanggapi dengan Cara Mengedukasi

Alih-alih hanya diam meratapi nasib dikritik orang lain. Ibu juga bisa lho menanggapi pendapat orang lain dengan cara yang bijak. Misalnya dengan memberikan alasan tertentu terkait pola asuh kepada anak. Tidak ada salahnya mengedukasi orang lain.

  • Sharing dengan Suami

Ingat bahwa tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak bukan hanya milik seorang Ibu. Suami juga tentunya ikut berperan. Ibu bisa berbagi (sharing) dengan suami. Sehingga apabila menemui kesulitan tentang mengasuh anak, Ibu dan suami bisa menemukan jalan keluar paling tepat.

Adakah Dampak Mom-Shaming Bagi Ibu dan Anak?

Jangan anggap remeh Mom-shaming, ternyata bisa berdampak pada kesehatan Ibu dan anak lho. Saat seorang Ibu merasa disalahkan atas apa yang terjadi pada anak, Ibu akan merasa terguncang. Akibatnya Ibu merasa cemas, selalu ragu-ragu dan khawatir atas pola asuh yang Ibu terapkan. Lama kelamaan kesehatan Ibu dan anaklah yang akan terganggu.

Banyak orang yang bisa melakukan Mom-shaming, khususnya orang terdekat, yaitu keluarga. Alih-alih merasa frustasi dan sedih, hadapi hal ini dengan bijak. Jangan mudah menilai diri sendiri negatif. Bekalilah wawasan Ibu tentang ilmu Parenting yang tentu saja sangat bermanfaat bagi Ibu dan anak.

Baca Juga :

  1. Melindungi Anak dari Bullying di Kelas
  2. Bagaimana Cara Menangani Anak Korban Bullying

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *