Banner Header Komunitas SOP

Orang Tua Bisa Jadi Pembully Anak! Kok Bisa?

Browse By

Banyak orang tua yang percaya dan meyakini bahwa bullying hanya akan dialami anak-anak di sekolah dan oleh anak-anak lain. Sayangnya, bullying bisa dialami oleh anak-anak di mana saja, termasuk di rumah oleh orang tua mereka sendiri!

Loh, kok bisa?

Mungkin aneh rasanya jika kita berpikir bahwa orang tua bisa membully anaknya sendiri. Namun, inilah yang tanpa disadari terjadi pada kebanyakan anak di luar sana. Perilaku orang tua yang terlalu mengintimidasi anak, terus-terusan meremehkan kemampuan anak, mengendalikan segala aspek kehidupan anak dan berusaha menegakkan aturan dengan agresif, ternyata bisa digolongkan ke perilaku “bullying” pada anak.

Mungkin orang tua beralasan ingin mengoreksi perilaku anak yang dianggap keliru, namun bukan berarti orang tua bisa terus mengendalikan segala aspek kehidupan anak,kan?

Jika memang demikian, rasanya kita perlu mundur selangkah dan memahami kembali siapa saja sih yang bisa disebut pembully? Benarkah orang tua juga bisa menjadi sosok pembully anak-anak?

Siapa yang boleh disebut Pembully?

Pembully adalah siapa saja yang menyebabkan penghinaan, dan rasa tidak nyaman pada orang lain, khususnya jika orang lain itu lebih lemah atau lebih kecil. Rasa tidak nyaman yang dimaksud misalnya berupa bullying secara fisik, bullying secara emosional atau ketidaknyamanan secara mental.

Kapan orang tua jadi sosok Pembully anak?

  1.       Saat memberikan hukuman secara fisik

Tanpa disadari, orang tua memang bisa menjadi sosok pembully anak-anak mereka sendiri. Khususnya saat orang tua mulai menggunakan kekuasaannya (power) sebagai orang tua kepada anak. Misalnya, saat orang tua mulai menggunakan hukuman fisik (bullying secara fisik) akibat dari perilaku anak yang dianggap melampaui batas, seperti mencubit atau memukul anak.

  1.       Saat berteriak, mengkritik dan melecehkan dengan kata-kata

Perilaku orang tua yang sering berteriak, mengkritik, dan melecehkan anak dengan kata-kata, juga termasuk jenis bullying secara emosional. Bullying secara emosional inilah yang mampu membuat anak merasa rendah diri dan merasa gagal sebagai seorang individu.

  1.   Menyebut anak dengan istilah/kata yang menyakiti hati

Orang tua mungkin sekali tanpa sadar menyebut anak dengan istilah / kata tertentu yang cenderung menyakiti hati anak. Seperti menyebut anak perempuan yang gendut dengan sebutan “si gendut” atau “si tembem”. Maksudnya mungkin ingin membuat anak merasa sadar dan kemudian mau untuk olah raga menurunkan atau mengikuti pola makan sehat. 

Tujuan yang awalnya positif, namun jika dilakukan dengan cara menyakiti perasaan anak, tentu akan berubah menjadi bentuk bullying .

  1.   Membandingkan anak dengan saudara

Pernah membandingkan anak dengan saudaranya sendiri? Sekalipun niatnya adalah sebagai “motivasi”, namun itu bukan jenis motivasi yang positif. Anak akan berubah menjadi sangat kompetitif, atau malah berbalik membenci saudaranya sendiri yang terus menerus menjadi pembanding. 

Jika pernah melakukan hal ini, mari mulai sekarang kita hentikan karena kebiasaan membanding-bandingkan anak bisa digolongkan terhadap perilaku bullying pada anak.

orang tua ternyata mampu menjadi sosok pembully anak

Apa yang terjadi pada anak?

Pernah dengar istilah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Istilah ini rasanya cukup cocok disematkan pada anak yang tumbuh di tengah kedua orang tua “pembully”. Meskipun tak semua anak demikian, namun, tumbuh besar di lingkungan yang terus mengkritik, melecehkan mengintimidasi, membully secara emosional dan fisik mampu membuat anak melakukan hal yang sama pada orang lain. 

Ingat, orang tua merupakan role model anak-anak, sehingga sangat mungkin segala sesuatu yang dilakukan orang tua juga bisa dicontoh oleh anak-anak.   

Apa yang perlu dilakukan orang tua?

Orang tua memang bukan manusia sempurna yang mampu mengurus anak dengan tingkat keberhasilan 100%. Setiap hari kita, dihadapkan dengan berbagai situasi sulit yang membuat orang tua tanpa sadar mulai mengintimidasi atau membully anak.

Namun, kini saatnya kita berubah dan mulai menerapkan positive parenting. Hindari sikap terus menyalahkan, mengkritik dan melecehkan anak-anak. Gantilah dengan sikap menghargai anak dengan segala kekurangan dan kesalahan yang mereka perbuat tiap harinya.

Satu contoh sederhana dalam positive parenting adalah : Tidak perlu melarang anak-anak untuk makan, namun ajari mereka memasak makanan sendiri, berikan lebih banyak pilihan makanan sehat untuk menjaga berat badannya dan ajaklah mereka berolah raga.

Baca juga:

  1. Toxic Parents: Apa dan Bagaimana Bahayanya?
  2. Ingat, Bullying juga Bisa Dialami Anak TK dan SD!
  3. Menggoda = Membully?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *