mengenal angka dan belajar berhitung
Balita Our Class Parenting

Tahapan Mengenal Angka dan Berhitung pada Anak Usia Dini

Sampai sekarang, masih cukup banyak pro kontra mengenai apakah boleh mengajarkan calistung (baca, tulis, hitung) pada anak usia dini atau anak di bawah usia 7 tahun? Sebagian pendapat mengatakan tidak boleh, sementara sebagian lain mengatakan yang sebaliknya. Pembahasan tentang masalah ini pun seakan tidak pernah ada habisnya. Lalu, apa yang sebaiknya Parents lakukan?

Jika dilihat dari sisi perkembangan, anak usia dini memang belum saatnya untuk diajari calistung. Perkembangannya masih terpusat pada pengembangan saraf motorik, baik motorik halus maupun motorik kasar. Perkembangan motorik ini sebenarnya penting untuk mendukung kemampuan menulis. Banyak ahli yang menyarankan untuk mengembangkan kemampuan motorik anak terlebih dahulu daripada kemampuan calistungnya.

Akan tetapi, di sisi lain, banyak orangtua yang merasa khawatir jika anak belum bisa calistung, anak akan kesulitan mengikuti pelajaran di tingkat SD. Seperti yang kita tahu bersama, kurikulum SD saat ini sudah sangat berkembang sehingga pada awal masuk SD pun, anak sudah dituntut untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Dilema seperti inilah yang sering kali dirasakan oleh sebagian besar orangtua.

Masalah ini juga menjadi salah satu hal yang dibahas dalam kelas School of Parenting pada 12 Mei 2018 lalu di Pose in Hotel, Solo. Kelas kali ini mendatangkan ahli dari PG PAUD UKSW, yaitu Maria Melita Rahardjo, M. Teach. Beliau adalah dosen di Prodi PG PAUD UKSW.

mengenal angka
Teacher kelas School of Parenting, Melita Rahardjo, M. Teach

Menurut Melita, sebelum anak-anak bisa operasi hitung, ada tahapan-tahapan yang harus mereka lewati terlebih dahulu. Penjelasannya ada dalam tabel berikut.

Mengenal Angka

No

Lisan (Oral)

Tulisan
1 Tahu nama angka secara lisan, misalnya dapat menyebutkan kata “satu”, “lima”, atau “sembilan”. Tahu nama angka secara tulisan, misalnya tulisan 5 dibaca lima.
2 Dapat menyebutkan nama angka secara urut dan konsisten. Dapat mengurutkan tulisan angka secara konsisten.
3 Dapat memahami konsep korespodensi 1 per 1.

Bahwa kata “lima” berarti mewakili lima benda.

Dapat memahami konsep korespodensi 1 per 1.

Bahwa kata “lima” berarti mewakili lima benda.

4 Memahami konsep lebih banyak dan lebih sedikit. Memahami konsep lebih banyak dan lebih sedikit.
5 Belajar operasi hitung sederhana: tambah dan kurang. Belajar operasi hitung sederhana: tambah dan

kurang.

belajar berhitung
suasana kelas School of Parenting di Solo

Mengenal Angka

Dari tabel di atas, sudah sangat jelas bahwa sebelum anak paham operasi hitung paling sederhana (tambah dan kurang), anak-anak harus tahu konsep bilangan terlebih dahulu. Anak harus mengenal angka, baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan memori anak. Jadi, sebelum menyuruh anak untuk menambah dan mengurang sesuatu, fokuslah dulu untuk mengembangkan memori anak.

Mengurutkan Angka

Jika kemampuan memori anak sudah bagus, ia akan mampu mengurutkan angka, baik secara lisan maupun tulisan. Setelah selesai di tahap ini, anak baru bisa lanjut ke tahapan berikutnya.

Mengenal Konsep Angka

Setelah anak tahu dan bisa membedakan antara satu (1) dengan lima (5), mengurutkannya, selanjutnya anak harus paham konsep korespondensi 1 per 1, yaitu satu (1) mewakili satu benda, sementara lima (5) mewakili lima benda.

Mengenal Konsep Lebih Banyak dan Lebih Sedikit

Setelah melalui tahap mengenal konsep korespondensi, selanjutnya anak harus diajarkan bahwa satu (1) lebih kecil dari lima (5). Setidaknya, anak harus paham dulu konsep lebih sedikit dan lebih banyak.

Belajar Operasi Hitung Sederhana

Setelah 4 tahapan di atas terpenuhi, barulah anak-anak bisa mulai diajari operasi hitung sederhana. Anda bisa mengenalkan konsep kurang (-) dan tambah (+). Tahapan mengenal angka ini tidak bisa diloncati. Anak akan kesulitan melakukan operasi hitung sederhana jika ia belum bisa mengenal konsep korespondensi.

Apakah Anak Boleh Belajar Calistung?

Jawabannya tentu saja boleh, tetapi tidak wajib. Artinya, anak tidak perlu dipaksa untuk belajar berhitung. Proses belajar anak-anak usia dini haruslah menyenangkan. Jika Parents melakukannya dengan paksaan, jelas anak akan merasa tertekan dan justru tidak mau belajar. Ajak anak belajar dengan permainan-permainan yang digemari anak.

Untuk anak di bawah 6 tahun, sebaiknya tidak perlu dimasukkan ke les calistung. Proses pembelajaran calistung ini sebaiknya ditangani sendiri oleh orangtua atau pengasuhnya. Jika belajar di tempat les, seolah-olah anak diwajibkan untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ini mungkin akan membebani anak. Guru terbaik untuk anak-anak usia dini tetaplah orangtua.

Inilah penggalan pembahasan dalam kelas School of Parenting kemarin. Kelas yang diikuti oleh 16 peserta ini berlangsung dengan sangat antusias. Selama kelas berlangsung, tidak hanya Teacher yang menyampaikan materi, para peserta juga banyak berbagi pengalaman. Ini menjadi proses belajar yang baik bagi para orangtua.

mengenal angka
peserta kelas School of Parenting Solo

Sampai bertemu di kelas kami berikutnya, ya Parents.

Orangtua adalah guru terbaik untuk anak-anaknya, maka jangan pernah berhenti belajar.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *