Banner Header Komunitas SOP

Beauty Bullying? No Way!!

Browse By

Cantik, memiliki rambut lurus nan panjang, berkaki jenjang, bertubuh ramping, berkulit putih, bermata tidak terlalu sipit dan tidak terlalu besar, mungkin masih menjadi definisi kecantikan bagi perempuan di Asia. Memang, wajar rasanya jika perempuan memiliki standar kecantikan. Namun, seharusnya hal ini tidak membuat perempuan saling mengintimidasi satu sama lain, alias yang marak terjadi sekarang ini, beauty bullying!

Ya, bullying memang masih sering terjadi, bahkan dilakukan oleh sesama perempuan. Miris memang rasanya melihat sesama perempuan yang seharusnya saling support, justru saling menjatuhkan satu sama lain. Perempuan yang seharusnya sangat memahami perasaan perempuan lainnya justru melakukan beauty bullying. 

Lalu, apa sih beauty bullying itu?

Beauty Bullying adalah sebuah tindakan menyindir, mengarahkan atau mengintimidasi seseorang yang berkaitan dengan kecantikannya (beauty). Beauty bullying sekarang ini semakin marak terjadi dan terasa begitu mengganggu kaum hawa. Pasalnya, beauty bullying seringkali terjadi di media sosial dan perempuan menjadi kelompok yang rentan mengalami beauty bullying. 

Dilansir dari majalah Femina, hasil riset Polling Indonesia yang bekerjasama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), mengungkapkan bahwa sebanyak 49% pengguna internet di Indonesia menjadi sasaran beauty bullying. UNICEF bahkan menyebut bahwa 41% – 50% remaja Indonesia usia 13-15 tahun mengalami cyber bullying

Media sosial seperti Instagram disebut-sebut sebagai salah satu media yang paling banyak digunakan untuk melakukan bullying. Kebanyakan bullying yang dilakukan melalui media sosial ini menyangkut dengan kecantikan atau beauty bullying. Sebut saja artis Nagita Slavina, Shandy Aulia, dan Nana Mirdad. Mereka adalah sosok publik figur yang beberapa kali pernah mengalami beauty bullying. 

Bagaimana Bentuk Beauty Bullying?

Mungkin Anda penasaran bagaimana sih bentuk dari beauty bullying? Apakah kita secara tidak sengaja pernah melakukannya?

Pertanyaan ini memang perlu ditanyakan oleh semua perempuan agar kita sebagai sesama perempuan memahami apa itu beauty bullying. Tujuannya agar kita tidak melewati batasan untuk mengomentari penampilan fisik seseorang sehingga mengarah pada beauty bullying. Pasalnya, beauty bullying memang sangat lekat dengan ketidaksengajaan kita mengomentari penampilan seseorang. 

Misalnya dengan berkomentar “Eh…Setelah menikah sekarang tambah gendut ya?”, “Wajahnya sih putih, tapi kok banyak jerawatnya sih!”, “Liat tuh hidungnya mancung ya sekarang, pasti karena operasi plastik.”, dst. 

Bagaimana Menanggapi Beauty Bullying?
  • Menyaring Apa yang Ingin diunggah Di Media Sosial

Beauty bullying memang sering terjadi di media sosial, jadi penting bagi Anda untuk menyaring apa yang ingin diunggah di media sosial. Sebaiknya, jangan terlalu sering over sharing foto atau video yang bersifat pribadi untuk mencegah banyaknya komentar-komentar miring terhadap diri sendiri. Akan lebih baik jika kita menyaring siapa saja yang bisa melihat foto atau video yang diupload. Khususkan pada orang-orang terdekat saja, yang memang sudah mengenal Anda dengan baik. 

cegah beauty bullying

  • Merubah Setting Media Sosial menjadi Private

Hal lain yang bisa Anda lakukan untuk menghindari beauty bullying adalah dengan merubah setting media sosial Anda menjadi private. Hal ini digunakan untuk mencegah orang-orang asing yang tak Anda kenal melihat, bahkan berkomentar pada foto atau video yang Anda upload. 

  • Minta Penjelasan pada Pembully

Apabila Anda sudah cukup sering mendapatkan beauty bullying, dari pihak tertentu maka tak ada salahnya meminta penjelasan langsung dari mereka terkait perilaku tidak menyenangkan ini. Tanyakan pada pihak tersebut, apa maksud dan tujuannya menyindir dan mengintimidasi Anda. 

Beauty Bullying memang marak sekali terjadi belakangan ini. Sebagai sesama perempuan, sebaiknya kita bisa saling menghargai penampilan perempuan lainnya dengan cara tidak berkomentar negatif terhadap penampilan mereka. 

Baca juga:

  1. Siapkan Amunisi! Hadapi Body Shaming Pasca Melahirkan
  2. Mom-Shaming: Sekedar Nyinyir atau Bermaksud Baik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *