Banner Header Komunitas SOP

Mengajarkan Anak Privasi, Hal Penting Yang Sering Terlupakan

Browse By

Merawat dan mendidik anak memang tidak mudah ya, Parents. Banyak sekali hal-hal mendasar yang ingin kita ajarkan pada anak. Namun apa daya, kadang mengajarkan anak tentang sesuatu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak sekali halangan yang menyertai proses dalam mengajarkan anak tentang sesuatu. Misalnya saat mengajarkan potty training pada anak selama beberapa pekan, ternyata anak masih saja mengompol.

Kondisi seperti ini sebenarnya wajar,Parents, karena setiap anak itu unik dan memiliki perkembangan yang berbeda-beda.

Ada anak yang cukup mudah dan cepat mengerti saat diajarkan sesuatu, tapi ada juga anak yang terkesan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mengerti sesuatu. Hal yang perlu diperhatikan oleh Parents adalah selalu mengajarkan anak tentang segala sesuatu secara konsisten. Artinya, terus menerus melatih anak tentang keterampilan tertentu sampai anak mampu melakukan keterampilan tersebut secara mandiri tanpa bantuan orang tua.

Sama halnya saat Parents ingin mengajarkan anak tentang privasi. Ya, privasi dianggap sebagai salah satu soft skill yang perlu dimiliki oleh anak sebagai bekal saat dewasa nanti.

Kemampuan setiap anak untuk menghargai privasi orang lain, sangat diperlukan oleh masyarakat dalam budaya apapun. Sayangnya, tidak ada panduan khusus, atau mata pelajaran khusus di sekolah yang mengajarkan anak tentang privasi.

Akibatnya, saat anak kurang mampu menghargai privasi orang lain, ia langsung saja dianggap sebagai anak yang tidak sopan, tidak tahu tata krama, hingga tuduhan bahwa tidak pernah diajarkan hal ini oleh orangtuanya. Situasi inilah yang seharusnya membuka mata setiap orangtua untuk mengajarkan anak tentang privasi secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana caranya?

Langkah Sederhana Ajarkan Anak Privasi:

√ Latih Anak Hargai Ruang Pribadi

Langkah sederhana yang paling penting dalam mengajarkan anak mengenai privasi adalah dengan melatih anak menghargai ruang pribadi. Misalnya, biasakan anak untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar Parents saat di rumah. Anda bisa mulai mengajarkan anak untuk mengepalkan tangan, lalu mengetuk pintu sambil memanggil nama Ayah atau Ibu.

Ajarkan juga pada anak untuk mengetuk pintu kamar saudara, atau ruang kerja Ayah sebelum masuk. Biasakan anak untuk memanggil nama dari pemilik kamar tersebut. Dengan begitu anak akan belajar bahwa ia harus memberitahu orang yang ada di dalam ruangan (kamar) sebelum masuk.

√ Latih Anak Menutup Pintu Saat Menggunakan Toilet

Membiasakan anak menutup pintu saat menggunakan toilet memang nampak sederhana, tapi masih banyak yang melanggarnya. Kebanyakan anak sering membuka pintu toilet saat buang air kecil atau sedang melakukan aktivitas lainnya. Alasannya karena mereka takut ada hantu atau hal-hal semacam itu. Untuk menghadapi situasi seperti ini, Parents bisa mengajarkan anak menutup pintu toilet secara bertahap.

Contoh, pada mulanya latih anak untuk menutup pintu toilet hanya sebagian, lalu semakin lama tambah kuantitasnya hingga akhirnya anak tidak takut berada dalam toilet yang tertutup.

Anda juga bisa menemani anak dengan berada di depan pintu toilet sampai anak benar-benar berani melakukan potty training sendiri. Hal yang paling penting adalah lakukan latihan ini secara konsisten dan sabar. Jangan lupa untuk membuat toilet senyaman dan seaman mungkin untuk anak. Misalnya dengan memasang lampu agar toilet tidak gelap,kunci yang mudah dibuka dan jangan biarkan lantai kamar mandi licin untuk menghindarkan anak dari terpeleset.

Cara mengajarkan privasi pada anak

√ Jelaskan Pada Anak Agar tentang Area Tubuh Privasi

Langkah sederhana lainnya untuk ajarkan anak privasi adalah dengan menjelaskan bagian tubuh yang menjadi privasi. Artinya, bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh atau diraba oleh orang lain selain Parents dan mungkin dokter anak. Hal ini penting sekali Parents, mengingat banyaknya kasus predator anak belakangan ini yang mengincar anak-anak usia dini sebagai korbannya. Untuk itu, sebaiknya parents mulai mengenalkan anak mengenai pendidikan seks sejak dini.

√ Ajarkan Anak untuk Meminta Izin Melakukan Sesuatu

Penting bagi Parents untuk mengajarkan anak meminta izin dalam melakukan sesuatu. Khususnya jika hal tersebut berkaitan dengan privasi orang lain. Misalnya saja jangan biarkan anak mengambil makanan orang lain tanpa meminta izin pada orang yang bersangkutan. Nampak sederhana memang, tapi mengambil makanan orang lain tanpa meminta sebenarnya sikap yang kurang sopan. Sikap tersebut juga termasuk hal yang melanggar privasi orang lain.

Untuk menghadapi hal ini, latih si kecil meminta izin saat ingin mengambil makanan orang lain. Anda bisa melatih anak saat momen makan bersama-sama setiap harinya. Sebaiknya jelaskan pada anak bahwa makanan yang ada di piring orang lain adalah milik orang tersebut. Misalnya, makanan di piring Ayah adalah makanan Ayah sehingga jika si kecil ingin memakan makanan di piring Ayah, ia harus minta izin pada Ayah. Tambahkan juga bahwa, jika Ayah tidak mengizinkan si kecil mengambil makananan maka si kecil juga tidak boleh marah.

Penting bagi Parents untuk mengajarkan bahwa, tidak semua hal yang diminta oleh anak bisa dikabulkan. Ada saja hal yang mungkin tidak bisa diperoleh anak, meskipun  anak sudah meminta hal tersebut berulang kali. Cara ini akan diingatnya hingga dewasa nanti, dan tentu saja akan menambah soft skill dalam kehidupan anak saat dewasa kelak.

√ Jadilah Contoh yang Baik

Langkah sederhana selanjutnya untuk mengajarkan anak tentang privasi adalah dengan menjadi contoh yang baik bagi anak. Pasalnya, anak adalah peniru ulung, sehingga cara yang paling mudah dalam mengajarkan anak tentang sesuatu adalah dengan memberinya contoh perilaku dalam rutinitas sehari-hari.

 

Mengajarkan anak tentang privasi memang tidak mudah, sehingga butuh konsisten dan kesabaran ekstra dari parents. Sebaiknya, latih anak menghargai privasi orang lain dengan cara sederhana, seperti beberapa langkah sederhana di atas.

Baca juga:

  1. Mengajarkan Anak Tentang “Rahasia”? Ini Rambu-Rambunya!
  2. Bolehkah Ajarkan “Rahasia” Pada Anak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *