Banner Header Komunitas SOP

Postpartum Depression Atau Baby Blues?

Browse By

Depresi setelah melahirkan sering juga disebut dengan postpartum depression.

Jenis depresi ini sangat umum dialami wanita setelah melahirkan. Depresi ini banyak mempengaruhi sekitar 13 persen wanita di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Banyak masalah yang disebabkan oleh postpartum depression. Sayangnya, sebagian besar wanita bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi ini.

Apa bedanya postpartum depression dengan baby blues? Yang disebutkan kedua mungkin lebih familiar di telinga Anda. Baby blues pada umumnya akan mereda beberapa waktu setelah melahirkan. Sementara depresi pasca melahirkan bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga sama berbahayanya dengan jenis depresi lain jika tidak ditangani dengan segera dan tepat. Efek depresi setelah melahirkan pun bisa lebih berat dari baby blues.

Biasanya, new mom tidak menyadari bahwa dirinya mengalami masalah depresi setelah melahirkan. Untuk itu, penting bagi keluarga dan orang-orang terdekat untuk belajar mengenali tanda-tanda depresi setelah melahirkan. Hal ini demi memberikan penanganan yang tepat untuk sang ibu baru.

Tanda-Tanda New Mom Mengalami Depresi

Anggapan umum yang berlaku di masyarakat bahwa seharusnya ibu akan sangat bahagia dengan kehadiran bayinya , membuat banyak ibu baru berusaha mengabaikan perasaan buruk dan tertekan yang dialaminya karena khawatir terlihat tidak bahagia dan merasa bersalah.

Padahal, jika depresi yang dialami ibu terus saja dipendam, efeknya akan sangat buruk bagi diri sendiri, keluarga dan terlebih lagi bagi bayinya.

Untuk itu, penting sekali mengenali tanda-tanda depresi setelah melahirkan seperti berikut ini:

  1. Mengalami kesulitan tidur atau justru terlalu banyak tidur.
  2. Mengalami kehilangan semangat dalam menjalani rutinitas.
  3.  Sering mengalami perubahan suasana hati. New mom juga cenderung mempunyai perasaan sedih yang terus-menerus.
  4. Cenderung lebih sensitif, lebih khawatir, dan merasa tidak dihargai.
  5. Lebih mudah marah dan putus asa.
  6. Menarik diri dari lingkungan.
  7. Kesulitan menjalin kelekatan (attachment) dengan bayinya.

Jika keluarga atau orang terdekat menemukan tanda-tanda seperti yang disebutkan, ada baiknya berbicara dengan hati-hati kepada ibu untuk membantunya mencari bantuan dari para profesional seperti psikolog atau dokter spesialis kejiwaan.

Beda baby blues dan post oartum depression

Cara Mengatasi Depresi Setelah Melahirkan

Ketika Anda merasakan hal-hal di atas, sebaiknya tidak hanya dipendam sendiri. Perasaan depresi harus segera diobati agar tidak menjadi masalah serius. New Mom perlu melakukan beberapa hal berikut ini untuk mengatasi depresi yang parah.

1. Konseling

Anda harus melakukan konseling kepada psikolog atau ahli kejiwaan atas masalah yang Anda hadapi. Saran dari ahli sangat penting untuk mengembalikan kondisi kesehatan psikologis Anda.

2. Pengobatan

Anda bisa melakukan pengobatan apabila depresi yang dialami sudah terlanjur parah. Dokter spesialis akan mempertimbangkan beberapa alternatif pengobatan mengingat kondisi new mom yang masih harus menyusui bayinya.

3. Terapi Hormon

Alternatif pengobatan yang banyak dipakai adalah dengan terapi hormon. Terapi hormon dilakukan dengan mengatur kadar hormon estrogen pasca melahirkan sehingga bisa menurunkan risiko depresi pasca melahirkan.

Faktor yang terpenting untuk membantu mencegah dan proses penyembuhan depresi pasca melahirkan adalah dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat. berikan perhatian dan bantuan baik secara fisik maupun emosional agar kondisi Ibu cepat pulih dan bebas dari depresi.

Baca juga:

  1. Postpartum Depression Pada Ayah
  2. Rasa Bersalah Ibu itu Wajar Dialami, Tapi Harus Diakhiri!

Rekomendasi Kelas Online Bersama Ahli : Sherlly Yusuf

  1. Baby Blues

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *