Proses Mengenalkan Agama pada Anak

Sebagai umat beragama, salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pendidikan anak adalah tentang mengenalkan konsep agama. Pelajaran agama bukanlah pelajaran konkret yang mudah dipahami oleh si kecil. Akan tetapi, agamalah yang akan menjadi pondasi bagi anak-anak dalam menjalankan kehidupannya di masa mendatang.

Kita tentu ingin anak-anak kita terbebas dari pengaruh negatif informasi atau budaya luar yang tidak sesuai dengan keyakinan kita. Salah satu cara terbaik dalam melindungi anak dari pengaruh negatif tersebut adalah dengan membekalinya pondasi agama yang kuat. Pelajaran tentang agama sebaiknya diberikan sedini mungkin.

Kapan Anak Mulai Dikenalkan Tentang Agama?

Setiap hari adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan konsep agama pada anak. Pelajaran ini tidak seperti pelajaran yang lainnya yang hanya dipelajari satu atau dua semester. Ini adalah pelajaran seumur hidup yang akan terus dipelajari oleh manusia.

Pada anak-anak, orang tua Anda bisa mulai mengenalkannya sejak mereka lahir ke dunia. Ketika lahir, satu-satunya indra yang berfungsi dengan baik adalah indra pendengaran. Bayi memproses semua informasi melalui pendengarannya. Mulailah dengan membacakan ayat kitab suci, dongeng-dongeng bertema agama, dan lagu-lagu rohani.

Anak mungkin belum bisa memahami. Akan tetapi, apa yang Anda perdengarkan kepada anak akan masuk dalam alam bawah sadarnya.

Untuk anak-anak, pelajaran agama lebih menekankan pada nilai-nilai dasar kehidupan, seperti masalah akhlak, kasih sayang sesama makhluk, kejujuran, dan lain sebagainya.

Sedang tentang cara beribadah dan detail keagamaan yang lainnya, mereka akan pelajari seiring perkembangannya.

cara mengenalkan agama pada anak

 

Bagaimana Cara Mengenalkan Agama pada Anak?

Pelajaran apa pun yang diberikan kepada anak harus menyenangkan, termasuk ketika mengenalkan konsep agama pada anak. Berikut ini adalah beberapa cara mengenalkan agama pada anak.

1. Kenalkan Konsep Ketuhanan dengan Bahasa yang Sederhana

Bagi anak-anak, sesuatu yang dianggap ada adalah sesuatu yang hadir, yang bisa bisa dilihat dan dipegang. Sementara Ketuhanan bukan tentang “ada” seperti yang dipahami si kecil. Jangan memaksakannya untuk percaya, apalagi dengan penjelasan-penjelasan yang rumit.

Mulailah dengan mengenalkan sifat-sifat Tuhan dengan bahasa yang sederhana. Misalnya, sifat Tuhan yang Maha Melihat. Sebagai ilustrasi, ketika si kecil ingin mengambil mangga tetangga. Biasanya, orangtua akan melarangnya dengan kalimat, “Tante pemilik mangga itu galak banget, lo, nak. Nanti kamu bisa dimarahi kalau ambil mangga tanpa ijin.”

Dengan kalimat di atas, yang mungkin anak pahami adalah dia akan dimarahi jika mengambil mangga dan ada tante pemilik mangga. Coba ubah kalimat saran di atas dengan kalimat, “Tante pemilik mangga memang tidak ada di rumah, tetapi Tuhan Maha Melihat loh, Nak. Kalau kamu mengambil mangga di sana, Tuhan akan tetap tahu meski tidak ada yang lihat.”

Gunakanlah bahasa-bahasa sederhana tentang Tuhan di setiap aktivitas kecil anak. Dengan begitu, anak akan lebih mudah mengenal Tuhannya.

2. Jadilah Teladan yang Baik

Bagi si kecil, belajar bukanlah tentang apa yang Anda nasihatkan kepada si kecil. Mereka belajar dengan melihat lingkungannya. Ya. Anak-anak adalah seorang peniru yang ulung. Jika Anda ingin memberikan pelajaran tentang agama, jadilah contoh terlebih dahulu.

Jangan hanya menyuruh anak untuk pergi beribadah, sementara Anda diam di rumah. Ajaklah mereka beribadah bersama, cara ini lebih efektif.

Selebihnya, yang harus Anda pahami adalah bahwa pelajaran agama tidak semata-mata tentang ibadah saja. Anda juga harus memberikan contoh tentang nilai-nilai dasar kehidupan, terutama tentang akhlak yang baik.

3. Bacakan Kisah-Kisah Agama

Belajar melalui dongeng masih sangat efektif bagi anak-anak. Membacakan kisah-kisah keagamaan bisa dijadikan alternatif untuk mengenalkan Tuhan kepada anak.

Ketika membacakan dongeng, anak mungkin akan bertanya tentang banyak hal. Jawablah pertanyaan mereka dengan bahasa yang sederhana. Jika tidak bisa menjawab, jangan memberikan jawaban asal yang justru membuat anak salah pengertian.

4. Konsisten

Jika Anda ingin anak-anak cepat paham tentang keagamaan, segala sesuatunya harus dilakukan secara konsisten. Ketika mengajarkan tentang shalat tepat waktu, misalnya, hal tersebut harus dilakukan secara konsisten.

Ketika sedang jalan-jalan dan waktu shalat tiba, bergegaslah untuk shalat. Jika Anda melewatkan waktu shalat, anak akan beranggapan bahwa ibadah shalat tepat waktu hanya dilakukan ketika kita santai-santai di rumah. “Buktinya, mama-papa saja tidak shalat ketika jalan-jalan,” pikir si kecil.

Untuk itu, semua pelajaran yang Anda berikan sebaiknya dilakukan secara konsisten. Bukan hanya konsisten secara jangka waktu namun juga pemahaman.

Baca Juga:

  1. Mencegah Anak Melakukan Perundungan SARA
  2. Tujuh Sopan Santun yang Harus Dimiliki Anak Usia 5 tahun
  3. Mudahnya Membiasakan Anak untuk Gemar Membaca
Bagaimana Menurut Anda?
+1
21
+1
2
+1
0
Share with love
Member Premium SOP Member Premium SOP

Gabung Member Premium

Mulai perjalanan memahami emosi diri dan keluarga

Nikmati akses Kelas Video Belajar kapanpun & dimanapun

Gabung Sekarang

Sudah Member Premium? Masuk Di Sini

Contact Us School of Parenting
×

Info Masa Keanggotaan

Perpanjang Paket