Banner Header Komunitas SOP

Anak-Anak Jatuh Cinta! Aduh, Harus Bagaimana??

Browse By

Suatu malam sebelum tidur, aku dan anakku yang berumur 8 tahun seperti biasa terlibat pillow talk. Seperti biasanya juga, banyak hal yang kami bicarakan sebelum tidur. Tapi, ada satu hal yang membuatku sangat kaget malam itu. Ya, anak perempuan ku bercerita bahwa dia menyukai salah satu teman laki-lakinya di sekolah.

“Dia mau pacaran sama aku bunda.” Katanya lugu malam itu, sambil tersenyum padaku.

Saking kagetnya, aku hanya menjawabnya dengan bersuara tanpa arti, “Hmmmm”.

“Dia juga mau mencium pipiku,kalau jadi pacarnya.” Katanya sambil malu-malu

Buru-buru aku bertanya, “Apa pendapatmu tentang hal itu?”

“Bunda, menurutku kami masih terlalu kecil untuk berciuman.” Kata anakku tanpa beban.

Dalam hati aku langsung bersyukur, bahwa anakku sudah memahami mana yang boleh dilakukan oleh anak-anak, dan mana yang hanya dilakukan orang dewasa.

Namun, saat itu juga aku menyadari bahwa ada perasaan baru yang dirasakan oleh anakku di usianya sekarang ini.

Perasaan tersebut bukanlah perasaan sedih karena mainannya diambil oleh temannya, atau perasaan jengkel karena ia ingin bermain dengan teman-teman sedangkan aku melarangnya. Tapi perasaan lain yang lebih baru yang sering disebut “cinta”.

Benarkah anakku jatuh cinta di usia kanak-kanak?

Apakah hal ini juga dialami oleh anak-anak lainnya?

Apa yang harus aku lakukan sebagai orangtua?

Pengalaman di atas mungkin saja sedang Anda alami sebagai orangtua dari anak-anak yang memasuki usia pra remaja. Banyak dari Anda yang baru menyadari bahwa anak Anda sedang merasakan sebuah cinta dengan temannya di sekolah. Rasa khawatir dan bingung bisa saja sedang Anda rasakan sekarang.

Tapi jangan terlalu panik dulu Parents, karena pengalaman ini tidak Anda alami sendirian. Rasa cinta yang tumbuh di usia anak pra remaja ternyata fase perkembangan yang normal. Hal ini disampaikan oleh Allison Bates, seorang konselor klinis, dilansir dari todaysparent.com.

Menurut Bates, anak-anak usia 6-8 tahun mulai memikirkan teman sekelasnya dengan cara yang berbeda. Kemungkinan, anak-anak usia 6-8 tahun mulai berpikir bahwa teman laki-laki atau perempuannya terlihat cantik atau tampan.

Bagaimana Para Ahli Menjelaskan Fenomena Ini?

Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Bates, pelatih parenting Calgary Julie F.S menambahkan bahwa, pemikiran anak yang menganggap bahwa temannya tampak cantik atau tampan juga diikuti dengan kesadaran seputar privasi tubuh mereka. Menurut Julie, anak-anak mulai menyadari bahwa mereka harus memiliki ruang ganti yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan setelah pelajaran berenang dan hal lainnya yang mengarah pada seksualitas.

Menurut Bates, pada usia ini (6-8 tahun) anak-anak masih meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Termasuk hubungan yang terjalin antara orang dewasa di sekitarnya. Itulah mengapa, anak-anak seringkali bertanya pada orangtua, “Bagaimana Ayah dan Ibu bertemu?”

Apa yang Sedang Dihadapi Oleh Orangtua Terkait Cinta Pra- Remaja?

Seperti fase perkembangan anak lainnya, orangtua sedang dihadapkan dengan hal baru yang belum pernah dialami.

Fase perkembangan anak dimana anak mulai merasakan cinta di usia mudanya merupakan sebuah tantangan bagi orangtua yang harus dihadapi dengan baik. Inilah saatnya orangtua mulai menjelaskan pada anak tentang suatu hubungan.

Alih-alih menertawakan anak karena sedang merasakan cinta, atau bertanya pada mereka, “Kenapa kamu suka anak itu?”, ada beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua saat menghadapi fase perkembangan anak yang satu ini.

Apa yang Perlu Dilakukan Orangtua Menghadapi Cinta Pra Remaja?

💑 Tentukan Batasan

Untuk menghadapi cinta di usia pra remaja, sebaiknya orangtua menentukan batasan tertentu. Batasan tersebut terkait interaksi yang dilakukan anak-anak saat ia merasakan perubahan perasaan pada teman lawan jenisnya.

Misalnya apakah anak diperbolehkan mencium pipi teman lawan jenisnya atau tidak?

Beberapa ahli dilansir dari huffpost.com, mengatakan bahwa mencium pipi yang dilakukan oleh anak-anak pra remaja sebenarnya tidak termasuk perilaku yang mengarah pada seksualitas.

Para ahli beranggapan bahwa perilaku tersebut hanya bentuk dari ungkapan perasaan yang ditunjukkan oleh anak-anak di usia mudanya. Hal yang perlu diperhatikan orangtua adalah di mana anak-anak berciuman.

Orangtua seharusnya menjelaskan bahwa anak-anak tidak boleh mencium pipi di sekolah. Sebaiknya jelaskan pada anak bahwa jika ia sedang menyukai seseorang, maka ia cukup bermain bersama di sekolah.

💑 Hindari Menertawakan Anak

Saat membicarakan tentang rasa cinta yang dirasakan oleh anak pra remaja pada teman sekolahnya, sebaiknya hindari menertawakan anak. Menertawakan anak hanya akan membuat dia merasa tidak nyaman bercerita dengan Anda. Kondisi ini bahkan bisa dibawa anak saat remaja hingga dewasa nanti.

💑 Jalin Komunikasi dengan Anak

Saat anak merasakan cinta di usia mudanya, sebaiknya orangtua harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Tujuannya agar saat anak-anak nanti mengalami rasa sakit karena cinta atau menyakiti teman lain karena cinta, maka orangtua bisa mengingatkan dan membimbing anak untuk melakukan sesuatu yang positif. Anda bisa bertanya pada anak tentang apa yang anak-anak rasakan saat patah hati atau saat bersedih karena cinta.

Cara lainnya yang bisa Anda lakukan adalah dengan menceritakan pengalaman cinta Anda saat seusia anak dulu. Hal ini membantu anak menyadari bahwa perasaan cinta, patah hati atau mungkin tidak sengaja menyakiti perasaan orang yang dicintainya juga pernah dialami oleh semua orang dan hal ini bagian dari perkembangan seseorang menuju dewasa.

💑 Belajar dari Pengalaman

Cinta yang dirasakan oleh anak di usia muda seharusnya menjadi pelajaran bagi orangtua dan tentunya anak-anak. Orangtua bisa belajar bahwa fase perkembangan anak ternyata sudah memasuki usia remaja, sehingga penting bagi orangtua untuk terus meningkatkan perhatian dan komunikasi dengan anak. Pada momen ini, anak-anak juga bisa belajar banyak hal, seperti belajar mengenai apa itu privasi, belajar menghormati orang lain dan lain sebagainya.

Orangtua bisa mengajarkan pada anak bahwa, seorang pria yang santun sebaiknya tidak mencium lawan jenisnya, begitu pula sebaliknya. Jelaskan juga pada anak untuk tidak marah pada teman yang menyukainya, sedangkan anak Anda tidak memiliki perasaan yang sama pada anak tersebut. Katakan pada anak bahwa perasaan seseorang tidak bisa diatur oleh orang lain, termasuk perasaan cinta.

Cara hadapi anak yang jatuh cinta

Cinta anak di usia muda atau di usia pra remajanya memang subjek yang sensitif dan seringkali menjebak orangtua. Banyak orangtua yang karena terlalu khawatir lalu sering melarang anak untuk jatuh cinta. Padahal rasa cinta yang dirasakan oleh anak merupakan fase perkembangan yang tidak bisa dihindari. Untuk itu, sebaiknya dampingi anak melewati fase ini dengan melakukan beberapa langkah di atas.

Baca juga:

  1. Mengajarkan Anak Privasi, Hal Penting yang Sering Terlupakan
  2. Pendidikan Seks Menjelang Anak Remaja
  3. Apa Sih Sulitnya Buat Anak Remaja Terbuka ke Orangtua?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *