Pola Komunikasi Negatif Pasangan

Dalam 24 jam, seberapa baik intensitas komunikasi Anda dengan pasangan? Dan selama itu, seberapa banyak Anda berdua mengalami pertengkaran kecil — mungkin masalah piring kotor yang tergeletak di meja makan dan bukan di cucian piring atau kunci kendaraan yang selalu hilang seakan punya kaki untuk berjalan?

Memang, tidak ada pernikahan yang tak dibumbui dengan pertengkaran kecil seperti situasi di atas. Bahkan, ada yang menganggap bahwa pertengkaran kecil selama pernikahan adalah bumbu cinta bagi pernikahan itu sendiri. 

Tapi, bagaimana jadinya jika pertengkaran kecil tersebut terjadi hampir setiap saat? Mungkin kini saatnya Anda memeriksa pola komunikasi dengan pasangan. 

John Gottman, seorang psikolog sekaligus peneliti prediksi perceraian dan stabilitas pernikahan selama empat dekade menemukan pola komunikasi (communication pattern) yang dikenal sebagai “The Four Horsemen of The Apocalypse”. 

Menurutnya, setiap pasangan berkomunikasi dalam 4 pola yang terdiri dari ; kritik (criticism), penghinaan (contempt), pertahanan diri (defensiveness), dan diam membisu (stonewalling). Menurut dr. Gottman keempat pola komunikasi negatif tersebut akan membawa Anda pada kegagalan pernikahan — dan faktanya sebanyak 90% pasangan tidak bisa mengubah pola komunikasi negatif yang mereka miliki. 

Jadi, apa yang perlu Anda lakukan untuk masuk ke dalam 10% pasangan yang mampu mengubah pola komunikasi negatif tersebut menjadi pola komunikasi positif?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari pahami pola komunikasi negatif yang Anda miliki bersama pasangan berikut ini. 

1. Kritik (Criticism)

Mengkritik pasangan berbeda dengan mengeluh. Mengeluh biasanya ditujukan pada kasus-kasus tertentu, sedangkan mengkritik lebih kepada serangan terhadap karakter pasangan kita. Akibatnya, Anda membongkar seluruh kekurangan pasangan saat mengkritiknya. Gottman mengungkapkan bahwa yang paling penting dalam memahami pola komunikasi negatif ini adalah dengan membedakan mana yang termasuk mengkritik dan mana yang termasuk mengeluh.

  • Contoh mengeluh:

“Aku khawatir saat kamu telat menjemputku dan tidak bisa aku hubungi. Bukankah kita berjanji untuk saling memberi kabar?”

  • Contoh mengkritik:

“Kamu tidak pernah berpikir bahwa sikap masa bodohmu  ini membuat orang lain tidak nyaman! Oh..Aku lupa, jangankan pada orang lain, padaku saja kamu selalu egois dan mementingkan dirimu sendiri.”

Jika Anda dan pasangan termasuk dalam pola komunikasi ini maka jangan langsung berasumsi bahwa hubungan Anda pasti akan gagal. Hal yang menjadi masalah dengan kritik adalah, ketika kritik meresap pada hati pasangan. Hal ini membuka jalan baginya untuk ikut mengkritik Anda jauh lebih tajam — sebab, pasangan merasa diserang, ditolak, dan disakiti. Situasi ini seringkali menyebabkan pelaku dan korban jatuh ke dalam pola dimana pengkritik pertama muncul kembali dengan frekuensi dan intensitas yang semakin lama semakin besar, yang akhirnya berujung pada penghinaan (contempt).

2. Penghinaan (contempt)

Jika Anda atau pasangan memiliki pola komunikasi ini, boleh dibilang inilah bentuk komunikasi yang jahat. Sebab, salah satu dari Anda akan memperlakukan pasangan dengan tidak hormat, mengejek lawan bicara dengan sarkasme, memanggil nama mereka dengan meniru atau menggunakan bahasa tubuh seperti memutar mata. Target penghinaan akan dibuat merasa dihina dan tak berharga. 

Pola komunikasi contempt melampaui kritik — sebab kritik lebih menyerang pada karakter pasangan sedangkan contempt atau penghinaan mengambil posisi superior moral atas pasangan. Berdasarkan penelitian, pasangan yang saling menghina berisiko menderita penyakit menular seperti pilek dan flu, dibandingkan pasangan lain, karena sistem kekebalan yang lemah.  

Contoh komunikasi penghinaan :

“Kamu lelah? Istirahat saja, toh rumah ini memang tempat istirahat — oh tapi aku lupa, sepanjang hari aku berlarian seperti orang gila di rumah ini mengurus anak dan membereskan cucian kotor. Dan, semua yang kamu lakukan sepulang kerja hanya main game online sama seperti anak-anak.”

pola komunikasi negatif pasangan

3. Pertahanan diri (defensiveness)

Pola komunikasi negatif berikutnya adalah pertahanan diri dan biasanya merupakan respons terhadap kritik. Sebenarnya, kita semua memiliki pola komunikasi ini dan pola ini seringkali muncul saat hubungan berada di ujung tanduk. Misalnya, saat kita merasa dituduh berperilaku tidak adil, seringkali kita akan mencari alasan dan berperan sebagai korban yang tidak bersalah sehingga pasangan kita akan mundur (menuduh). 

Contoh pola komunikasi:

Pertanyaan (Ibu) : “Ayah sudah bilang ke Ibu kalau kita tidak bisa datang makan malam hari ini?”

Respon devensive (Ayah) : “Aku sangat sibuk hari ini, kamu tau kan jadwalku tiap hari selasa sesibuk apa? Kenapa bukan kamu yang bilang pada ibu?”

Dalam contoh pola komunikasi di atas, Ayah bukan hanya merespon secara defensif tapi juga membalikkan kesalahan dalam upaya menyalahkan pasangan. Nah, jika Ibu kemudian merespon dengan pola komunikasi non defensif, maka artinya si Ibu mengungkapkan penerimaan, tanggung jawab, pengakuan kesalahan, dan pemahaman tentang perspektif pasangan. Dan jika si Ibu merespon dengan komunikasi non defensif maka konflik tidak akan terjadi. Konflik baru benar-benar akan terjadi jika respon si Ibu menjadi kritik dan tidak mau mengalah.

4. Diam Membisu (stonewalling)

Pola komunikasi negatif selanjutnya adalah diam membisu (stonewalling). Pola komunikasi negatif ini terjadi ketika lawan bicara menarik diri dari interaksi, menutup diri dan berhenti menanggapi pasangan. Alih-alih menghadapi masalah dengan pasangannya, orang-orang yang memiliki pola komunikasi negatif ini dapat melakukan manuver mengelak seperti mengabaikan, bersikap sibuk, atau terlibat dalam perilaku obsesif hingga mengganggu. 

Pola stonewalling baru benar-benar akan keluar jika ketiga pola sebelumnya muncul secara kuat — dan jika pola tersebut terus berlangsung maka stonewalling sulit dihentikan. Bahkan, saat seseorang sudah dalam pola komunikasi negatif stonewalling, ia sulit diajak berdiskusi secara rasional.

Jika Anda merasa memiliki pola komunikasi negatif ini, maka hentikan diskusi dengan pasangan dan mintalah waktu istirahat sejenak. Anda bisa mengatakan :

“Aku masih sangat marah saat ini, jadi bisakah kita berhenti sejenak dan berdiskusi lagi setelah aku merasa tenang?”

Setelah Anda memahami keempat pola komunikasi negatif tersebut, maka kini saatnya memahami bagaimana menjadikannya pola komunikasi positif. Klik di sini untuk memahaminya 

Baca Juga:

  1. Mantra Cinta Terampuh : Pahami Attachment Style Pasangan
  2. Cinta itu Kata Kerja, Butuh Tindakan Nyata
  3. Kuis : Uji Seberapa Besar Cinta Pasangan Anda dengan Jawab Pertanyaan ini!
Bagaimana Menurut Anda?
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Share with love
Contact Us School of Parenting
×

Info Masa Keanggotaan

Perpanjang Paket